KECERDASAN ADVERSITAS UNTUK CEGAH BUNUH DIRI (Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd.)

Bookmark and Share
27 Februari 2021 - 05:56:16 » Diposting oleh : rahmatmulyono » Hits : 743
KECERDASAN ADVERSITAS UNTUK CEGAH BUNUH DIRI (Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd.)

Humas.16/02/2021. Opini Kedaulatan Rakyat edisi Senin Pon, 1 Februari 2021 memuat tulisan Saudara Faisal Ismail berjudul ‘ (Tidak) Bunuh Diri’. Tulisan tersebut melansir jumlah kasus bunuh diri di Kabupaten Gunungkidul. Tahun 2020 jumlahnya mencapai 30: sebanyak 27 orang orang mengakhiri hidup dengan gantung diri dan 3 sisanya minum racun. Jumlah keseluruhan sama seperti tahun 2019.

            Kasus bunuh diri merupakan reaksi atas lemahnya seseorang dalam menghadapi kesulitan hidup. Ilmu psikologi menjelaskannya dalam ranah kecenderungan adversitas (adversity intelligence). Kemalangan dan kesengsaraan yang dihadapi, baik karena problem ekonomi, kesehatan maupun sosial, mengalahkan pertahanan akal sehat. Ketidakberdayaan itu diperparah pula oleh ringihnya posisi budi, akhlak, serta iman seseorang. Leluhur Jawa sebenarnya sudah memberikan pitutur tentang eling lan waspada dalam meghadapi masalah hidup. Konsep eling lan waspada membuat individu tetap berada dalam frekuensi nggayuh kawicaksaning Gusti.

 

Tidak Terjebak

            Kecerdasan adversitas dapat menjadi pertahanan individu agar seseorang tidak terjebak pada perbuatan bunuh diri. Kecerdasan ini merupakan harmoni antara dimensi intelektual, emosional, dan spiritual. Dalam wacana ilmu psikologi, tiga kecerdasan tersebut dinamai kecerdasan intelektual atau intelligence quotient (IQ), kecerdasan emosional atau emotional quotient (EQ), serta kecerdasan spiritual atau spiritual quotient (SQ).

            Pertama, kecerdasan intelektual mengukur kemampuan intelektual, analisis, logika, dan rasio seseorang. Ia merupakan modal yang sangat baik untuk lulus dari semua jenis ujian, termasuk meraih nilai tinggi dalam uji kecerdasan. Kedua, kecerdasan emosional yang meliputi kesadaran, penerimaan, dan penghormatan terhadap terdiri diri sendiri.

            Orang yang mempunyai kecerdasan ini mampu menguasai diri, memahami serta menerima lingkungan sekitar, mempercayai sesama, dan mempengaruhi orang. Ketiga, kecerdasan spiritual yang merupakan proses penyeberangan, pelampauan, penembusan makna dari wilayah material ke wilayah spiritual.

            Poin terakhir di atas mampu mempertebal iman dan takwa seseorang, sehingga budi dan akhlak mulianya terbangun. Di samping ketiga kecerdasan yang telah dikenal secara umum, kecerdasan adversitas memberikan konteks, praksis, sekaligus solusi alternatif untuk menghadapi berbagai kesulitan. Sebab kecerdasan ini adalah daya sinergis antara budi, akhlak, dan iman manusia dalam menundukkan tantangan, menekuk berbagai kesulitan, serta memecahkan beragam masalah.

 

Sepakat

            Semua orang dapat menerapkan kecerdasan adversitas. Tidak terkecuali kelompok masyarakat yang rentan bunuh diri. Kecerdasan ini efektif dilakukan ketika soliditas masyarakat diperkuat secara sistemis dnan kultural. Karena itu, keguyuban di antara warga dalam satu RT, RW, dan pedukuhan seyogianya digalakkan. Budaya gotong-royong yang merupakan kearifan lokal masyarakat Gunungkidul menjadi basis utama penerapan kecerdasan adversitas.

            Penulis bersepakat dengan usulan Saudara Faisal Ismail agar ada upaya koordinatif, sinergis, serta serius dalam bentuk edukasi sosial, bimbingan moral, dan pencerahan keagamaan. Dengan catatan komunikasi interpersonal yang dilakukan mengintegrasikan unsur IQ, EQ, SQ, dan AQ. Tentu bukan ceramah, melainkan berbasis praktik secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Kita sudah semestinya mengejawantahkan lelaku adiluhung memayu hayuning bebrayan agung.

            Pemerintah desa dan tokoh masyarakat harus menjadi teladan. Sebagai contoh, tegur sapa di antara warga dengan saling mengunjungi dan saling membantu jika sedang dalam kesulitan (unsur EQ), menggiatkan ibadah secara berjamaah (SQ), serta selalu mengedepankan musyawarah dengan melibatkan seluruh warga dalam perencanaan pembangunan desa dan mencari solusi bersama jika ada permasalahan yang dihadapi masyarakat (IQ) dan (AQ). Dengan demikian, deteksi dini menjadi penting dilakukan melalui langkah arus bawah. Selain merekatkan kohesi sosial ia mampu memperkuat psikologi warga.

Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd., mantan Rektor UNY, kini dosen Pascasarjana Pendidikan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa.

Info Terkait

Tinggalkan Komentar

  • Nama
  • Website
  • Komentar
  • Kode Verifikasi
  • 144 + 9 = ?
Banner
SMS Center
PMB
Online Support
Statistik Member
Member:225 Orang
Member Aktif:225 Orang
Member Baru Hari Ini:0 Orang
Statistik Pengunjung
Pengunjung Online:3
Total Pengunjung:305588
Total Hits:1045139
Copyright © 2014 Pascasarjana Pendidikan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta. All Rights Reserved
Developed by Beesolution.Net