LULUSAN PENDIDIKAN TINGGI RESPONSIF DAN ADAPTIF ( Prof. Drs. H. Pardimin, M.Pd., Ph.D)

Bookmark and Share
16 November 2021 - 02:24:35 » Diposting oleh : rahmatmulyono » Hits : 103
 LULUSAN PENDIDIKAN TINGGI RESPONSIF DAN ADAPTIF ( Prof. Drs. H. Pardimin, M.Pd., Ph.D)

Humas 16/11/2021. Meraih sarjana, magister, dan doktor merupakan langkah awal perjalanan akademis dan karier seseorang. Gelar kesarjanaan adalah legalitas prestasi sesuai ranah keilmuan dan keterampilan. Ketekunannya itu diperoleh selama perkuliahan, baik jenjang pendidikan ahli madya, sarjana, atau pascasarjana. Bidang teknologi mengistilahkan upgrade diri. Meningkatkan kapasitas, daya, dan kecanggihan seseorang agar adaptif serta responsif terhadap berbagai perubahan maupun perkembangan di masyarakat, dari tataran lokal, nasional, regional, hingga internasional.

Belakangan di dunia pendidikan muncul kursus online yang terbuka dalam skala besar. Namanya Massive Open Online Courses atau MOOCs sebagai inovasi pembelajaran berbasis media. Kehadirannya berpotensi mendisrupsi pendidikan konvensional. MOOCs menjadi tantangan bagi lembaga pendidikan formal yang mewajibkan tatap muka secara fisik. Namun, MOOCs juga memberikan peluang demokratis bagi masyarakat. Belajar tak lagi terikat ruang, waktu, dan hadir secara ketat. Pembelajaran semacam ini melampaui sekat teritorial. Kecenderungan sama juga ditemukan pada wilayah bisnis. Mulanya dianggap mengancam bisnis konvensional. Tapi ternyata menjadi peluang menggiurkan bagi masyarakat. Ruang digital mempertemukan permintaan (demand) dan kebutuhan (need). Semua mendapatkan bagian, semua memperoleh keuntungan.

Dunia serba digital kini mengakselerasi segala lini. Itulah sebabnya, lulusan perguruan tinggi harus responsif dan adaptif. Responsif berarti cepat tanggap, tergugah hatinya, dan tidak masa bodoh. Adaptif sama dengan dinamis melihat peluang dan tantangan. Lulusan hendaknya memedulikan imperatif demikian,  sebagaimana diteladankan oleh Ki Hadjar Dewantara seabad silam. Beliau meninggalkan fasilitas tercukupi di lingkungan istana Pakualaman. Ki Hadjar memilih hidup bersama dan untuk masyarakat. Pilihan tersebut bentuk empati dan keberpihakan atas senasib dan sepenanggungan sebagai bangsa terjajah. Pelajaran ini dapat dipetik agar lulusan menyesuaikan diri dengan keadaan. Adaptasi diperlukan agar mengubah tantangan perubahan menjadi inovasi di segala bidang kehidupan. Adaptasi mempercepat penguasaan medan.

Perkembangan teknologi memainkan peran penting dalam memajukan masyarakat informasi. Di samping itu, terdapat banyak pengaruh lain yang sama pentingnya dan menentukan bentuk serta fungsinya di masa depan. Pada dasarnya di segala zaman masyarakat terus-menerus telah beradaptasi. Seperti tradisi berburu, agraris, industri, informasi, sampai era kecerdasan buatan. Adaptasi adalah jantung peradaban. Karena itu, perguruan tinggi harus menyiapkan lulusannya menguasai tiga kompetensi tambahan, yaitu kepemimpinan, komunikasi, dan literasi digital.

Pertama, kompetensi kepemimpinan yang dapat dikembangkan dari Trilogi Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani. Jiwa kepemimpinan perlu ditampakkan saat memimpin maupun dipimpin. Praktik pengembangan trilogi kepemimpinan tersebut memperkuat dan membekali lulusan agar berkarakter, khususnya kepemimpinan yang berakar pada budaya Indonesia. Trilogi kepemimpinan juga terus diteliti, dikaji, dan dikembangkan sesuai konteks perkembangan zaman. Seperti diamanatkan Ki Hadjar Dewantara dalam ajarannya mengenai sifat, bentuk, isi, dan irama.

Kedua, kecakapan komunikasi berwawasan nasional dan global. Adapun dua kompetensi yang mesti dikuasai, yakni bahasa nasional dan internasional. Bahasa Indonesia diperlukan agar lulusan PT mampu berkiprah dan berpengaruh di tingkat nasional dengan tetap menaruh perhatian pada permasalahan serta kepentingan lokal (daerah). Sedangkan penguasaan bahasa Inggris diperlukan supaya lulusan mampu berdaya saing di kancah internasional dengan berpijak pada permasalahan serta kepentingan dalam negeri. Kemampuan komunikasi juga mencakup kecerdasan membangun koneksi. Kecakapan ini relevan dan mendesak dibutuhkan di tengah globalisasi. Kompetensi komunikasi membuka dan memperkuat jejaring kerja sama secara luas, masif, dan demokratis.

Ketiga, literasi digital yang merupakan salah satu super smart society. Ciri khasnya memberikan beragam kemudahan, kecepatan, dan kemurahan. Teknologi digital menuntut pengguna bukan hanya canggih mengoperasikan, melainkan juga cerdas secara mental. Mentalitas ini dipesankan pula oleh Ki Hadjar Dewantara. Produk budaya asing yang masuk ke Indonesia harus dimanfaatkan demi meningkatkan derajat kemanusiaan. Fenomena hoaks, ujaran kebencian, dan kampanye hitam yang diproduksi dan disebar melalui teknologi digital menunjukkan kemerosotan derajat kemanusiaan. Kecenderungan kontraproduktif itu memperlihatkan pengguna masih gagap menghadapi perkembangan teknologi digital. Oleh karena itu, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa memiliki komitmen yang tinggi untuk mewujudkan visi “Unggul dan Berkarakter di tingkat Asia Tenggara dalam Memuliakan dan Mencerdaskan Kehidupan Bangsa Berdasarkan Ajaran Tamansiswa pada tahun 2025” dalam rangka melahirkan lulusan yang responsif dan adaptif.

Selamat kepada UST Yogyakarta yang pada Dies Natalis ke 66 (15 November 1955-15 November 2021) yang telah berusia 66 tahun. "UST on the move to Southeast Asia University in 2025"

Ki Prof. Drs. H. Pardimin, M.Pd., Ph.D. Rektor Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa. Artikel terbit pada SKH Kedaulatan Rakyat pada Hari Senin Kliwon 15 November pada Kolom Opini.

Salam Humas

Ki RM

Info Terkait

Tinggalkan Komentar

  • Nama
  • Website
  • Komentar
  • Kode Verifikasi
  • 119 + 6 = ?
Banner
SMS Center
PMB
Online Support
Statistik Member
Member:225 Orang
Member Aktif:225 Orang
Member Baru Hari Ini:0 Orang
Statistik Pengunjung
Pengunjung Online:3
Total Pengunjung:269408
Total Hits:938239
Copyright © 2014 Pascasarjana Pendidikan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta. All Rights Reserved
Developed by Beesolution.Net